I.
Anatomi
dan
Fisiologi Hidung
Untuk
mengetahui penyakit dan kelaian hidung, perlu diingat kembali tentang anatomi
hidung.
1.
Anatomi
hidung1
Hidung luar
berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah :
a. Pangkal hidung (bridge)
b. Dorsum nasi
c. Puncak hidung (hip)
d. Ala nasi
e. Kolumela
f. Lubang hidung (nares anterior).

Gambar
14. Bagian Luar Hidung
Hidung luar
dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau
menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari
(1) tulang hidung (os nasal), (2)
prosesus frontalis os maksila dan (3)
prosesus nasalis os frontal, sedangkan kerangka tulang
rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah
hidung, yaitu (1) sepasang
kartilago nasalis lateralis superior, (2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang
disebut juga sebagai kartilago alar mayor, dan (3) tepi anterior kartilago septum1. Ada dua pengatur otot-otot alar ;
dilator (dilator naris, m. Procerus, caput angulare) dan konstriktor (m.
Nasalis, depressor septi). Semua menerima innervasi persarafan dari saraf
kranial VII.2
Rongga hidung
atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang, dipisahkan oleh
septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau
lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang
disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.
Bagian dari
kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang nares
anteriror, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang
mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut
vibrise. Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral,
inferior dan superior.
Dinding medial
hidung ialah septum nasi. Septum merupakan struktur
garis tengah yang dibentuk oleh
beberapa tulang dan tulang
rawan.
Bagian superior dan posterior dibentuk oleh perpendicular plate tulang ethmoid
dan bagian anterior dibentuk oleh kartilago septal (quadrilateral), premaxilla,
dan membranous columella. Bagian inferior, dibentuk oleh krista vomer,
maxillary, dan tulang-tulang palatine, dan posteriornya oleh krista sphenoidal
(gambar 2)2.

Gambar
22. Septum nasi
Septum
dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium pada bagian
tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung. Bagian depan
dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan dibelakangnya terdapat
konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding lateral hidung.
Pada dinding
lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah
konka inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media, lebih kecil lagi
ialah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema.
Konka inferior
merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid,
sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin
etmoid.
Di antara
konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut
meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior,
medius dan superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan
dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat
muara (ostium) duktus nasolakrimalis.
Meatus medius
terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus
medius terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris dan
infundibulum etmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung
dimana terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid
anterior.Pada meatus superior yang merupakan ruang di antara konka superior dan
konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid
(gambar 3).
Batas rongga hidung ; dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan
dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung
sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga
tengkorak dari rongga hidung. Lamina kribriformis merupakan
lempeng tulang berasal dari os ethmoid, tulang ini berlubang-lubang (kribrosa=
saringan) tempat masuknya serabut-serabut saraf olfaktorius.

Gambar
32. Gambaran skematika dari dinding nasal lateral kanan dengan
seluruh konka media dan 1/3 anterior dari bagian inferior
konka yang diangkat.
2.
Kompleks Ostiomeatal (KOM)1
Kompleks
ostiomeatal (KOM) merupakan celah pada dinding lateral hidung yang dibatasi
oleh konka media dan lamina papirasea. Struktur anatomi penting yang membentuk
KOM adalah prosesus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula
etmoid, agger nasi dan resesus frontal. KOM merupakan unit fungsional yang
merupakan ventilasi dan drenase dari sinus sinus yang letaknya di anterior
yaitu sinus maksila, etmoid anterior dan frontal.
Jika terjadi
obstruksi pada celah yang sempit ini, maka akan tejadi perubahan patologis yang
signifikan pada sin-sinus terkait.

Gambar 4. Kompleks ostiomeatal (KOM)
3.
Perdarahan Hidung1
Suplai darah interior nasal berasal dari
percabangan arteri ethmoid anterior dan posterior (melewati lempeng ethmoid)
dari ophtalmik dan arteri spenopalatine. Bagian lateral merupakan muara
percabangan dari arteri maxilari interna.
Arteri maxilari interna, merupakan
percabangan kesatu sebelum terakhir dari arteri karotis eksterna, yang melewat
bagian lateral lempeng pterygoid hingga masuk ke fossa pterygoid, kemudian
diteruskan sebagai arteri spenopalatine hingga masuk ke kavitas nasal melalui
foramen spenopalatine pada ujung posterior konka nasal. Dalam hidung, arteri
dibagi menjadi arteri posterior lateral nasal dan percabangan posterior septal
yang menyertai divisi dua dan tiga dari nervus kranialis kelima.
Bagian atas
rongga hidung mendapat perdarahan dari a.Etmoid anterior dan posterior yang
merupakan cabang dari a.Oftalmika dari a.Karotis interna.
Bagian depan
hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a.Fasialis.
Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang
a.Sfenopalatina, a.Etmoid anterior, a.Labialis superior dan a.Palatina mayor,
yang disebut pleksus Kiesselbach (little’s area). Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah
cedera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis terutama pada
anak.

Gambar 5. Suplai darah pada hidung
Vena-vena
hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya.
Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.Oftalmika yang
berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup,
sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai
ke intrakranial.
4.
Sistem limfatik
Suplai
limfatik hidung amat kaya dimana terdapat jaringan pembuluh anterior dan
posterior. Jaringan limfatik anterior kecil dan bermuara di sepanjang pembuluh
fasialis yang menuju ke leher. Jaringan ini mengurus hampir seluruh bagian
anterior hidung, vertibulum dan daerah prekonka.
Jaringan
limfatik posterior mengurus mayoritas anatomi hidung, menggabungkan ketiga
saluran utama di daerah hidung belakang: saluran superior, media dan inferior.
Kelompok superior berasal dari konka media dan superior dan bagian hidung yang
berkaitan, berjalan di atas tuba eustachius dan bermuara pada kelenjar limfe
retrofaring. Kelompok media, berjalan dibawah tuba eustachius, mengurus koka
inferior, meatus inferior dan sebagian dasar hidung dan menuju rantai kelenjar
jugularis. Kelompok inferior berasal dari septum dan sebagian dasar hidung
berjalan menuju kelenjar limfe di sepanjang pembuluh jugularis interna.

Gambar 6. Drainase
limfatik hidung dan sinus. Jaringan limfatik anterior mengurus bagian luar
hidung dan daerah prekonkan lewat kenjar-kenelnjar pada daerah preaurikularis
dan submandibula. Jaringan posterior mengurus mayoritas bagian dalam hidung
lewat kelenjar retrofaringeal.
5.
Persarafan Hidung
Suplai persarafan pada hidung terutama
divisi ophtalmik dan maxillar dari nervus kranialis V. Divisi ophtalmik (V-1)
memberi percabangan nervus nasociliary yang dibagi menjadi anterior dan
posterior ethmoid dan percabangan intra trochlear2.
Divisi maxillary (V-2) memberi
percabangan nervus nasal posterior superior yang masuk kehidung melalui foramen
sphenopalatine dan melewati permukaan anterior os sphenoid sampai septum nasal
sebagai nervus nasopalatine (n. Of cotunnius)2.
Ganglion
Sfenopalatinum, selain memberikan persarafan sensoris, juga memberikan
persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima
serabut-serabut sensoris dari n.Maksila, serabut parasimpatis dari n.Petrosus
superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n.Petrosus profundus.
Ganglion Sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung
posterior konka media1.


Gambar 72. Suplai persarafan
pada dinding lateral dan dinding medial hidung
Fungsi penghidu
berasal dari nervus Olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina kribosa dari
permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor
penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.
6.
Mukosa Hidung
Rongga hidung
dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa
pernafasan (mukosa respiratori) dan mukosa penghidu (mukosa olfaktorius).
Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga
hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia (cilliated
pseudostratified collumner epithalium) dan diantaranya terdapat sel-sel goblet.
Mukosa penghidu terdapat pada atap
rongga hidung, konka superior dan sepertiga atas septum. Mukosa dilapisi oleh
epitel torak berlapis semu tidak bersilia (pseudostratified
collumner non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel,
yaitu sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna
coklat kekuningan1.
Pada bagian
yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang-kadang terjadi
metaplasia, menjadi sel epitel skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna
merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan
sel-sel goblet, yang aktivitasnya sebanding dengan ketebalan
mukosanya. Lapisan mukosa inni sangat kental dan lengket dalam menangkap debu,
benda asing, dan bakteri yang terhirup yang melalui kinerja silia benda-benda
tersebut diangkut ke faring, ditelan dan dihancurkan di lambung1.
Lisozim dan imunoglobulin A (Ig A)
ditemukan dalam lapisan mukosa yang ikut melindungi terhadap patogen. Lapisan
mukosa hidung diperbaharui tiga sampai empat kali dalam satu jam. Silia
merupakan struktur kecil mirip rambut, bergerak serempak secara cepat ke arah
aliran lapisan, dengan membengkok dan kembali tegak secara lambat. Kecepatan
gerakannya kira-kira 700-1000 siklus per menit 3.
7.
Sistem Transport mukosilier
Sistem
transport mukosilier meruakan sistem pertahanan aktif rongga hidung terhadap
virus, bakteri, jamur atau partikel berbahaya lain yang terhirup bersama udara.
Efektifitas sistem transport mukosilier dipengaruhi oleh kualitas silia dan
palut lendir. Palut lendir ini dihasilkan oleh sel-sel goblet pada epitel dan
kelenjar seromusinosa submukosa.
Bagian bawah
dari palut lendir terdiri dari cairan serosa sedangkan bagian permukaannya
terdiri dari mukus yang lebih elastik dan banyak mengandung protein plasma
seperti albumin, IgG, IgM dan faktor komplemen. Sedangkan cairan serosa
mengandung laktoferin, lisozim, inhibitor lekoprotease sekretorik dan IgA
sekretorik (s-IgA)
Glikoprotein
yang dihasilkan oleh sel mukus penting
untuk pertahanan lokal yang bersifat antimikrobial. IgA berfungsi untuk
mengeluarkan mikroorganisme dari jaringan dengan mengikat antigen tersebut pada
lumen saluran nafas, sedangkan IgG beraksi di dalam mukosa dengan memicu reaksi
inflamasi jika terpajan dengan antigen bakteri
Pada sinus
maksila, sistem tranport mukosilier menggerakkan sekret sepanjang dinding
anterior, medial, posterior dan lateral serta atap rongga sinus membentuk
gambaran halo atau bintang yang mengarah ke ostium alamiah. Setinggi ostium
sekret akan lebih kental tetapi draenasenya lebih cepat untuk mencegah tekanan
negatif dan berkembangnya infeksi. Kerusakan mukosa yang ringan tidak akan
menghentikan atau mengubah transport dan sekret akan melewati mukosa yang rusak
tersebut. Tetapi jika sekret lebih kental, sekret akan terhenti pada mukosa
yang mengalami defek.
Gerakan sistem
transport mukosilier pada sinus frontal mengikuti gerakan spiral. Sekret akan
berjalan menuju septum interfrontal, kemudian ke atap, dinding lateral dan
bagian inferior dari dinding anterior dan posterior menuju resessus frontal.
Gerakan spiral menuju ke ostiumnya terjadi pada sinus sfenoid, sedangkan pada
sinus etmoid terjadi gerakan rektiliner jika ostiumnya terletak di dasar sinus
atau gerakan spiral jika ostium terdapat pada satu dindingnya.
Pada dinding
lateral terdapat 2 rute besar transport mukosilier. Rute pertama merupakan
gabungan sekresi sinus frontal, maksila dan etmoid anterior. Sekret ini
biasanya bergabung di dekat infudibulum etmoid selanjutnya berjalan menuju tepi
bebas prosesus unsinatus, dan sepanjang dinding medial konka inferior menuju
nasofaring melewati bagian anteroinferior orifisum tuba eustachius. Transport
aktif berlanjut ke batas epitel bersilia dan epitel skuamosa pada nasofaring,
selanjutnya jatuh ke bawah dibantu dengan gaya gravitasi dan proses menelan.
Rute kedua
merupakan gabungan sekresi sinus etmoid posterior dan sfenoid yang bertemu di
resesus sfenoetmoid dan menuju nasofaring pada bagian postero-superior orifiusm
tuba eustachius.
Sekret yang
berasal dari meatus superior dan septum akan bergabung dengan sekret rute
pertama, yaitu di inferior dari tuba eustachius. Sekret pada septum akan
berjalan vertikal ke arah bawah terlebih dahulu kemudian ke belakang dan
menyatu di bagian inferior tuba eustachius.

Gambar 8. Arah
dan lama relatif aliran dari mukus nasal
8.
Fisiologi Hidung1
Fungsi fisiologis
hidung ialah (1) fungsi respirasi
untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara, humidifikasi,
penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal; (2) fungsi
penghidu karena adanya mukosa olfaktorius dan reservoir udara untuk menampung
stimulus penghidu; (3) fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara,
membantu proses bicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi
tulang; (4) fungsi statik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi
terhadap trauma dan pelindung panas; (5) refleks nasal.
a. Fungsi
respirasi
Pada
inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi konka
media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran udara ini
berbentuk lengkungan atau arkus. Udara yang dihirup akan
mengalami humidifikasi oleh palut lendir. Pada musim panas, udara hampir jenuh
oleh uap air, sehingga terjadi sedikit penguapan udara inspirasi oleh palut
lendir, sebaliknya pada musim dingin.
Suhu udara yang melalui hidung diatur 37
derajat selsius. Fungsi pengatur suhu ini dimungkinkan oleh banyaknya pembuluh
darah dibawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. Partikel
debu, virus, bakteri dan jamur yang terhirup bersama udara akan disaring di
hidung oleh ; rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi, silia, palut lendir. Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan
partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Palut
lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. Faktor lain ialah
enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, yang disebut lysozyme.
b. Fungsi penghidu
Hidung juga
bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap
rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau
dapat dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau
bila menarik napas dengan kuat.
Fungsi hidung untuk membantu indra
pengecap adalah untuk membedakan rasa manis yang berasal dari berbagai macam
bahan, seperti perbedaan rasa manis strawberi, jeruk, pisang atau coklat. Juga
untuk membedakan rasa asam yang berasal dari cuka dan asam jawa.
c. Fungsi
fonetik
Resonansi oleh hidung penting untuk
kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan
resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau (rinolalia).
Hidung membantu
pembentukan konsonan nasal (m,n,ng)
d. Refleks Nasal
Mukosa hidung
merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna,
kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan
refleks bersin dan nafas berhenti, dan rangsang bau tertentu akan menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.
II.
Deviasi
Septum5
Bentuk
septum normal ialah lurus di tengah rongga hidung tetapai pada orang dewasa
biasanya septum nasi tidak lurus sempurna di tengah. Deviasi septum yang ringan
tidak mengganggu, tetapi bila deviasi itu cukup berat, menyebabkan penyempitan
pada satu sisi hidung. Dengan demikian dapat mengganggu fungsi hidung dan
menyebabkan kompliksi.5,6
Etiologi4,5,6
Penyebab
yang paling sering adalah trauma. Trauma dapat terjadi sesudah lahir, pada
waktu partus atau bahkan masa janin intra uterin.
Penyebab
lainnya ialah ketidakseimbangan pertumbuhan. Tulang rawan septum nasi terus
tumbuh, meskipun batas superior dan inferior telah menetap. Dengan demikian
terjadilah deviasi pada septum nasi itu.
Bentuk
Deformitas4,6
Bentuk deformitas
septum.
- Deviasi,
biasanya berbentuk huruf C atau S
- Dislokasi,
yaitu bagian bawah kartilago septum keluar dari Krista maksila dan masuk
ke dalam rongga hidung.
- Penonjolan
tulang atau rawan septum, bila memanjang dari depan ke belakang disebut
Krista, dan bila sangat runcing dan pipi disebut spina
- Bila
deviasi atau Krista septum bertemu dan melekat dengan konka dihadapannya
disebut sinekia. Bentuk ini akan menambah beratnya obstruksi.


Gejala Klinik4,5
Keluhan yang paling
sering pada deviasi septum ialah sumbatan hidung. Sumbatan bisa unilateral,
dapat pula bilateral, sebab pada sisi deviasi terdapat konka hipotropi,
sedangkan pada sisi sebelahnya terjadi konka yang hipertrofi, sebagai akibat
mekanisme kompensasi.
Keluhan lainya ialah rasa nyeri dikepala dan disekitar
mata. Selain dari itu penciuman bisa terganggu, apabila terdapat deviasi pada
bagian atas septum.
Deviasi septum dapat
menyumbat ostium sinus, sehingga merupakan faktor predisposisi terjadinya
sinusitis.
Terapi4,6
Bila gejala tidak ada atau keluhan sangat ringan, tidak
perlu dilakukan koreksi septum. Ada 2 jenis tindakan operatif yang dapat
dilakukan pada pasien dengan keluhan yang nyata yaitu reseksi submukosa dan
septoplasti.
- Reseksi
submukosa (submucous septum resection SMR). Pada operasi ini
mukoperikondrium dan mukoperiostium kedua sisi dilepaskan dari tulang
rawan dan tulang septum. Bagian tulang atau tulang rawan dari septum
kemudian diangkat, sehingga mukoperikondrium dan mukoperiostium sisi kiri
dan kanan akan langsung bertemu digaris tengah. Reseksi submukosa dapat menyebabkan
komplikasi seperti terjadinya hidung pelana (saddle nose) akibat turunnya
puncak hidung, oleh karena bagian atas tulang rawan septum terlalu banyak
diangkat.
- Septoplasti atau reposisi septum. Pada operasi
ini tulang rawan yang bengkok direposisi. Hanya bagian yang berlebih saja
yang dikeluarkan. Dengan
cara operasi ini dapat dicegah komplikasi yang mungkin timbul pada operasi
reseksi submukosa, terjadinya perforasi septum dan hidung pelana.

DAFTAR PUSTAKA
1. Soetjipto,
D dkk. HIDUNG. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi
Keenam. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI. 2007. h. 118-122.
2. Snow, James B Jr, dkk. Ballenger’s
Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Sixtennth edition, 2003 BC Decker
Inc. h. 547-560
3.
Adams, George L, dkk.
BUKU AJAR PENYAKIT THT EDISI 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1997. h. 173-189
4. Adam,
Boies, Higler, Boies Buku Ajar Penyakit
THT edisi 6, EGC, Jakarta,1997
5. Nizar, D dkk. KELAINAN SEPTUM. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher Edisi Keenam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007. h. 126-127.
No comments:
Post a Comment