Wednesday, January 16, 2013

Septum Deviasu


I.                   Anatomi dan Fisiologi Hidung
Untuk mengetahui penyakit dan kelaian hidung, perlu diingat kembali tentang anatomi hidung.

1.           Anatomi hidung1

Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah :
a.       Pangkal hidung (bridge)                       
b.      Dorsum nasi
c.       Puncak hidung (hip)
d.      Ala nasi
e.       Kolumela
f.       Lubang hidung (nares anterior).

Gambar 14. Bagian Luar Hidung

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari (1) tulang hidung (os nasal), (2) prosesus frontalis os maksila dan (3) prosesus nasalis os frontal, sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu (1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior, (2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago alar mayor, dan (3) tepi anterior kartilago septum1. Ada dua pengatur otot-otot alar ; dilator (dilator naris, m. Procerus, caput angulare) dan konstriktor (m. Nasalis, depressor septi). Semua menerima innervasi persarafan dari saraf kranial VII.2
Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang, dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.
Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang nares anteriror, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise. Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior dan superior.
Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum merupakan struktur garis tengah yang dibentuk oleh beberapa tulang dan tulang rawan. Bagian superior dan posterior dibentuk oleh perpendicular plate tulang ethmoid dan bagian anterior dibentuk oleh kartilago septal (quadrilateral), premaxilla, dan membranous columella. Bagian inferior, dibentuk oleh krista vomer, maxillary, dan tulang-tulang palatine, dan posteriornya oleh krista sphenoidal (gambar 2)2.
Gambar 22. Septum nasi

Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung. Bagian depan dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan dibelakangnya terdapat konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding lateral hidung.
Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media, lebih kecil lagi ialah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema.
Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid.
Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medius dan superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis.
Meatus medius terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus medius terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris dan infundibulum etmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior.Pada meatus superior yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid (gambar 3).
Batas rongga hidung ; dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. Lamina kribriformis merupakan lempeng tulang berasal dari os ethmoid, tulang ini berlubang-lubang (kribrosa= saringan) tempat masuknya serabut-serabut saraf olfaktorius.
Gambar 32. Gambaran skematika dari dinding nasal lateral kanan dengan seluruh konka media dan 1/3 anterior dari bagian inferior konka yang diangkat.

2.      Kompleks Ostiomeatal (KOM)1

Kompleks ostiomeatal (KOM) merupakan celah pada dinding lateral hidung yang dibatasi oleh konka media dan lamina papirasea. Struktur anatomi penting yang membentuk KOM adalah prosesus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula etmoid, agger nasi dan resesus frontal. KOM merupakan unit fungsional yang merupakan ventilasi dan drenase dari sinus sinus yang letaknya di anterior yaitu sinus maksila, etmoid anterior dan frontal.
Jika terjadi obstruksi pada celah yang sempit ini, maka akan tejadi perubahan patologis yang signifikan pada sin-sinus terkait.
Gambar 4. Kompleks ostiomeatal (KOM)

3.      Perdarahan Hidung1

Suplai darah interior nasal berasal dari percabangan arteri ethmoid anterior dan posterior (melewati lempeng ethmoid) dari ophtalmik dan arteri spenopalatine. Bagian lateral merupakan muara percabangan dari arteri maxilari interna.
Arteri maxilari interna, merupakan percabangan kesatu sebelum terakhir dari arteri karotis eksterna, yang melewat bagian lateral lempeng pterygoid hingga masuk ke fossa pterygoid, kemudian diteruskan sebagai arteri spenopalatine hingga masuk ke kavitas nasal melalui foramen spenopalatine pada ujung posterior konka nasal. Dalam hidung, arteri dibagi menjadi arteri posterior lateral nasal dan percabangan posterior septal yang menyertai divisi dua dan tiga dari nervus kranialis kelima.
Bagian atas rongga hidung mendapat perdarahan dari a.Etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a.Oftalmika dari a.Karotis interna.
Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a.Fasialis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang a.Sfenopalatina, a.Etmoid anterior, a.Labialis superior dan a.Palatina mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach (little’s area). Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cedera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis terutama pada anak.
Gambar 5. Suplai darah pada hidung

Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.Oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intrakranial.

4.      Sistem limfatik

Suplai limfatik hidung amat kaya dimana terdapat jaringan pembuluh anterior dan posterior. Jaringan limfatik anterior kecil dan bermuara di sepanjang pembuluh fasialis yang menuju ke leher. Jaringan ini mengurus hampir seluruh bagian anterior hidung, vertibulum dan daerah prekonka.
Jaringan limfatik posterior mengurus mayoritas anatomi hidung, menggabungkan ketiga saluran utama di daerah hidung belakang: saluran superior, media dan inferior. Kelompok superior berasal dari konka media dan superior dan bagian hidung yang berkaitan, berjalan di atas tuba eustachius dan bermuara pada kelenjar limfe retrofaring. Kelompok media, berjalan dibawah tuba eustachius, mengurus koka inferior, meatus inferior dan sebagian dasar hidung dan menuju rantai kelenjar jugularis. Kelompok inferior berasal dari septum dan sebagian dasar hidung berjalan menuju kelenjar limfe di sepanjang pembuluh jugularis interna.
Gambar 6.  Drainase limfatik hidung dan sinus. Jaringan limfatik anterior mengurus bagian luar hidung dan daerah prekonkan lewat kenjar-kenelnjar pada daerah preaurikularis dan submandibula. Jaringan posterior mengurus mayoritas bagian dalam hidung lewat kelenjar retrofaringeal.

5.      Persarafan Hidung

Suplai persarafan pada hidung terutama divisi ophtalmik dan maxillar dari nervus kranialis V. Divisi ophtalmik (V-1) memberi percabangan nervus nasociliary yang dibagi menjadi anterior dan posterior ethmoid dan percabangan intra trochlear2.
Divisi maxillary (V-2) memberi percabangan nervus nasal posterior superior yang masuk kehidung melalui foramen sphenopalatine dan melewati permukaan anterior os sphenoid sampai septum nasal sebagai nervus nasopalatine (n. Of cotunnius)2.
Ganglion Sfenopalatinum, selain memberikan persarafan sensoris, juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari n.Maksila, serabut parasimpatis dari n.Petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n.Petrosus profundus. Ganglion Sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media1.
Gambar 72. Suplai persarafan pada dinding lateral dan dinding medial hidung

Fungsi penghidu berasal dari nervus Olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina kribosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.

6.        Mukosa Hidung

Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan (mukosa respiratori) dan mukosa penghidu (mukosa olfaktorius). Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu  yang mempunyai silia (cilliated pseudostratified collumner epithalium) dan diantaranya terdapat sel-sel goblet.
Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu tidak bersilia (pseudostratified collumner non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan1.
Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang-kadang terjadi metaplasia, menjadi sel epitel skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel-sel goblet, yang aktivitasnya sebanding dengan ketebalan mukosanya. Lapisan mukosa inni sangat kental dan lengket dalam menangkap debu, benda asing, dan bakteri yang terhirup yang melalui kinerja silia benda-benda tersebut diangkut ke faring, ditelan dan dihancurkan di lambung1.
Lisozim dan imunoglobulin A (Ig A) ditemukan dalam lapisan mukosa yang ikut melindungi terhadap patogen. Lapisan mukosa hidung diperbaharui tiga sampai empat kali dalam satu jam. Silia merupakan struktur kecil mirip rambut, bergerak serempak secara cepat ke arah aliran lapisan, dengan membengkok dan kembali tegak secara lambat. Kecepatan gerakannya kira-kira 700-1000 siklus per menit 3.

7.        Sistem Transport mukosilier

Sistem transport mukosilier meruakan sistem pertahanan aktif rongga hidung terhadap virus, bakteri, jamur atau partikel berbahaya lain yang terhirup bersama udara. Efektifitas sistem transport mukosilier dipengaruhi oleh kualitas silia dan palut lendir. Palut lendir ini dihasilkan oleh sel-sel goblet pada epitel dan kelenjar seromusinosa submukosa.
Bagian bawah dari palut lendir terdiri dari cairan serosa sedangkan bagian permukaannya terdiri dari mukus yang lebih elastik dan banyak mengandung protein plasma seperti albumin, IgG, IgM dan faktor komplemen. Sedangkan cairan serosa mengandung laktoferin, lisozim, inhibitor lekoprotease sekretorik dan IgA sekretorik (s-IgA)
Glikoprotein yang dihasilkan oleh sel  mukus penting untuk pertahanan lokal yang bersifat antimikrobial. IgA berfungsi untuk mengeluarkan mikroorganisme dari jaringan dengan mengikat antigen tersebut pada lumen saluran nafas, sedangkan IgG beraksi di dalam mukosa dengan memicu reaksi inflamasi jika terpajan dengan antigen bakteri
Pada sinus maksila, sistem tranport mukosilier menggerakkan sekret sepanjang dinding anterior, medial, posterior dan lateral serta atap rongga sinus membentuk gambaran halo atau bintang yang mengarah ke ostium alamiah. Setinggi ostium sekret akan lebih kental tetapi draenasenya lebih cepat untuk mencegah tekanan negatif dan berkembangnya infeksi. Kerusakan mukosa yang ringan tidak akan menghentikan atau mengubah transport dan sekret akan melewati mukosa yang rusak tersebut. Tetapi jika sekret lebih kental, sekret akan terhenti pada mukosa yang mengalami defek.
Gerakan sistem transport mukosilier pada sinus frontal mengikuti gerakan spiral. Sekret akan berjalan menuju septum interfrontal, kemudian ke atap, dinding lateral dan bagian inferior dari dinding anterior dan posterior menuju resessus frontal. Gerakan spiral menuju ke ostiumnya terjadi pada sinus sfenoid, sedangkan pada sinus etmoid terjadi gerakan rektiliner jika ostiumnya terletak di dasar sinus atau gerakan spiral jika ostium terdapat pada satu dindingnya.
Pada dinding lateral terdapat 2 rute besar transport mukosilier. Rute pertama merupakan gabungan sekresi sinus frontal, maksila dan etmoid anterior. Sekret ini biasanya bergabung di dekat infudibulum etmoid selanjutnya berjalan menuju tepi bebas prosesus unsinatus, dan sepanjang dinding medial konka inferior menuju nasofaring melewati bagian anteroinferior orifisum tuba eustachius. Transport aktif berlanjut ke batas epitel bersilia dan epitel skuamosa pada nasofaring, selanjutnya jatuh ke bawah dibantu dengan gaya gravitasi dan proses menelan.
Rute kedua merupakan gabungan sekresi sinus etmoid posterior dan sfenoid yang bertemu di resesus sfenoetmoid dan menuju nasofaring pada bagian postero-superior orifiusm tuba eustachius.
Sekret yang berasal dari meatus superior dan septum akan bergabung dengan sekret rute pertama, yaitu di inferior dari tuba eustachius. Sekret pada septum akan berjalan vertikal ke arah bawah terlebih dahulu kemudian ke belakang dan menyatu di bagian inferior tuba eustachius.
Gambar 8. Arah dan lama relatif aliran dari mukus nasal

8.        Fisiologi Hidung1

Fungsi fisiologis hidung ialah (1) fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal; (2) fungsi penghidu karena adanya mukosa olfaktorius dan reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu; (3) fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses bicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang; (4) fungsi statik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma dan pelindung panas; (5) refleks nasal.

a.     Fungsi respirasi

Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Udara yang dihirup akan mengalami humidifikasi oleh palut lendir. Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, sehingga terjadi sedikit penguapan udara inspirasi oleh palut lendir, sebaliknya pada musim dingin.
Suhu udara yang melalui hidung diatur 37 derajat selsius. Fungsi pengatur suhu ini dimungkinkan oleh banyaknya pembuluh darah dibawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. Partikel debu, virus, bakteri dan jamur yang terhirup bersama udara akan disaring di hidung oleh ; rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi, silia, palut lendir. Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. Faktor lain ialah enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, yang disebut lysozyme.

b.     Fungsi penghidu

Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik napas dengan kuat.
Fungsi hidung untuk membantu indra pengecap adalah untuk membedakan rasa manis yang berasal dari berbagai macam bahan, seperti perbedaan rasa manis strawberi, jeruk, pisang atau coklat. Juga untuk membedakan rasa asam yang berasal dari cuka dan asam jawa.

c.     Fungsi fonetik

     Resonansi oleh hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau (rinolalia).
Hidung membantu pembentukan konsonan nasal (m,n,ng)

d.     Refleks Nasal 

Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks bersin dan nafas berhenti, dan rangsang bau tertentu akan menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.

II.                Deviasi Septum5
Bentuk septum normal ialah lurus di tengah rongga hidung tetapai pada orang dewasa biasanya septum nasi tidak lurus sempurna di tengah. Deviasi septum yang ringan tidak mengganggu, tetapi bila deviasi itu cukup berat, menyebabkan penyempitan pada satu sisi hidung. Dengan demikian dapat mengganggu fungsi hidung dan menyebabkan kompliksi.5,6

Etiologi4,5,6
Penyebab yang paling sering adalah trauma. Trauma dapat terjadi sesudah lahir, pada waktu partus atau bahkan masa janin intra uterin.
Penyebab lainnya ialah ketidakseimbangan pertumbuhan. Tulang rawan septum nasi terus tumbuh, meskipun batas superior dan inferior telah menetap. Dengan demikian terjadilah deviasi pada septum nasi itu.

Bentuk Deformitas4,6

Bentuk deformitas septum.
  1. Deviasi, biasanya berbentuk huruf C atau S
  2. Dislokasi, yaitu bagian bawah kartilago septum keluar dari Krista maksila dan masuk ke dalam rongga hidung.
  3. Penonjolan tulang atau rawan septum, bila memanjang dari depan ke belakang disebut Krista, dan bila sangat runcing dan pipi disebut spina
  4. Bila deviasi atau Krista septum bertemu dan melekat dengan konka dihadapannya disebut sinekia. Bentuk ini akan menambah beratnya obstruksi.

Gejala Klinik4,5
            Keluhan yang paling sering pada deviasi septum ialah sumbatan hidung. Sumbatan bisa unilateral, dapat pula bilateral, sebab pada sisi deviasi terdapat konka hipotropi, sedangkan pada sisi sebelahnya terjadi konka yang hipertrofi, sebagai akibat mekanisme kompensasi.
            Keluhan lainya ialah rasa nyeri dikepala dan disekitar mata. Selain dari itu penciuman bisa terganggu, apabila terdapat deviasi pada bagian atas septum.
            Deviasi septum dapat menyumbat ostium sinus, sehingga merupakan faktor predisposisi terjadinya sinusitis.

Terapi4,6
Bila gejala tidak ada atau keluhan sangat ringan, tidak perlu dilakukan koreksi septum. Ada 2 jenis tindakan operatif yang dapat dilakukan pada pasien dengan keluhan yang nyata yaitu reseksi submukosa dan septoplasti.
  1. Reseksi submukosa (submucous septum resection SMR). Pada operasi ini mukoperikondrium dan mukoperiostium kedua sisi dilepaskan dari tulang rawan dan tulang septum. Bagian tulang atau tulang rawan dari septum kemudian diangkat, sehingga mukoperikondrium dan mukoperiostium sisi kiri dan kanan akan langsung bertemu digaris tengah. Reseksi submukosa dapat menyebabkan komplikasi seperti terjadinya hidung pelana (saddle nose) akibat turunnya puncak hidung, oleh karena bagian atas tulang rawan septum terlalu banyak diangkat.
  2. Septoplasti atau reposisi septum. Pada operasi ini tulang rawan yang bengkok direposisi. Hanya bagian yang berlebih saja yang dikeluarkan. Dengan cara operasi ini dapat dicegah komplikasi yang mungkin timbul pada operasi reseksi submukosa, terjadinya perforasi septum dan hidung pelana.














DAFTAR PUSTAKA

1.    Soetjipto, D dkk. HIDUNG.  Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi Keenam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007. h. 118-122.
2.    Snow, James B Jr, dkk. Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Sixtennth edition, 2003 BC Decker Inc. h. 547-560
3.    Adams, George L, dkk. BUKU AJAR PENYAKIT THT EDISI 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1997. h. 173-189
4.    Adam, Boies, Higler, Boies Buku Ajar Penyakit THT edisi 6, EGC, Jakarta,1997
5.    Nizar, D dkk. KELAINAN SEPTUM.  Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi Keenam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007. h. 126-127.
6.    www.mayoclinic.com/health/deviated-septum/DS00977 di unduh tanggal 24 september 2012
7.    www.drtbalu.co.in/dns.html di unduh tanggal 25 september 2012

No comments: